Rabu, 03 November 2010

Metode Survei Analitik dan Contoh Kasusnya

Posted by achmad riza pamula On 02.17 0 komentar

STUDI CROSS SECTIONAL

A.Pengertian
Cross sectional yaitu studi yang mempelajari hubungan antara variabel bebas (faktor resiko) dengan variabel tergantung (efek) dengan melakukan pengukuran sesaat. Tentunya tidak semua subjek penelitian harus diperiksa pada hari atau saat yang sama, akan tetapi baik variabel resiko maupun variable efek dinilai hanya satu kali saja. Faktor resiko serta efek tersebut diukur menurut keadaan atau statusnya pada waktu dilakukan observasi. Studi cross-sectional merupakan salah satu jenis studi observasional untuk menentukan hubungan antara faktor resiko dengan penyakit.
Dalam penerapannya studi cross-sectional mempunyai beberapa langkah pelaksanaanya ,diantaranya :
1.Merumuskan pertanyaan penelitian beserta hipotesis yang sesuai
2.Mengidentifikasi variabel bebas dan tergantung
3.Menetapkan subjek penelitian
4.Melaksanakan pengukuran
5.Melakukan analisis

B.Kelebihan Penelitian Cross-Sectional

1.Memungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat umum, tidak hanya mencari pengobatan, hingga generalisasinya cukup memadai.
2.Desain ini relatif mudah, murah, dan hasilnya cepat dapat diperoleh.
3.Dapat dipakai untuk meneliti sekaligus banyak variabel.
4.Tidak terancam loss to follow up (drop out)
5.Dapat dimasukan kedalam tahapan pertama suatu penelitian kohort atau eksperimen, tanpa atau dengan sedikit sekali menambah biaya.
6.Dapat dipakai sebagai dasar untuk penelitian berikutnya yang lebih konklusif. Missal suatu laporan cross-sectional mengenai hubunganya kadar HDL kolesterol dan konsumsi alkohol dapat merupakan dasar untuk penelitian kohort atau eksperimen untuk memastikan hubungan sebab dan efek.

C.Kekurangan Penelitian Cross-Sectional

1.Sulit untuk menetukan sebab dan akibat karena pengambilan data resiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan (temporal relationship tidak jelas). Akibatnya sering tidak mungkin ditentukan mana yang sebab dan mana akibat.
2.Studi prevalens lebih banyak menjaring subjek yang mempunyai masa sakit yang panjang daripada mereka yang mempunyai masa sakit yang pendek. Hal ini disebabkan karena individu yang cepat sembuh atau yang cepat meninggal akan mempunyai kesempatan yang lebih kecil untuk terjaring dalam studi ini. Bila karakteristik pasien yang cepat sembuh atau cepat meninggal itu berbeda dengan mereka yang mempunya masa sakit yang panjang, maka akan dapat terjadi salah.
3.Dibutuhkan subjek yang cukup besar, terutama bila variabel yang dipelajari banyak
4.Tidak menggambarkan perjalanan penyakit, insidens, maupun prognosis.
5.Tidak praktis untuk meneliti kasus yang sangat jarang.
6.Mungkin terjadi bias prevalens atau bias insidens karena efek suatu faktor resiko selama selang waktu tertentu disalahtafsirkan sebagai efek penyakit.

D.Contoh Kasus Dengan Menggunakan Studi Cross-Sectional
Mencari hubungan antara kebiasaan menggunakan obat nyamuk semprot dengan batuk kronik berulang (BKB) pada anak balita. Desain yang dipilih adalah studi cross-sectional langkah-langkah yang diperlukan dalam penelitian adalah :
1.Menetapkan pertanyaan penelitian : apakah ada hubungan antara kebiasaan memakai obat nyamuk semprot dengan kejadian BKB pada anak balita ??
Hipotesis yang sesuai adalah : kebiasaan pemakaian obat nyamuk semprot berhubungan dengan peningkatan kejadian BKB.
2.Identifikasi variabel :
•Faktor resiko yang diteliti : penggunaan obat nyamuk semprot.
•Efek : BKB pada balita.
•Faktor resiko yang tidak diteliti : riwayat asma dalam keluarga, tingkat sosial ekonomi, jumlah anak, dll.
Semua istilah tersebut harus dibuat definisi operasional yang jelas, sehingga tidak bermakna ganda.
3.Penetapan subjek penelitian :
•Populasi terjangkau : Balita pengunjung poliklinik yang tidak mempunyai riwayat asma dalam keluarga, tingkat sosial ekonomi tertentu, jumlah anak dalam keluarga tertentu.
•Sampel : dipilih sejumlah anak balita sesuai dengan perkiraan besar sampel (misalnya telah dihitung sejumlah 250 anak). Cara pemilihan: random sampling dengan mempergunakan tabel random.
4.Pengukuran
•Faktor resiko : ditanyakan apakah dirumah subjek biasa dipergunakan obat nyamuk semprot.
•Efek : dengan kriteria tertentu ditetapkan apakah subjek menderita BKB.
5.Analisis hasil : gambar 1.1

BKB
Ya Tidak Jumlah
Obat Nyamuk Ya 30 70 100
Tidak 15 135 150

Gambar 1.1 hasil pengamatan cross sectional untuk mengetahui hubungan antara pemakain obat nyamuk semprot dengan BKB balita.


STUDI KASUS-KONTROL

A.Pengertian
Penelitian kasus-kontrol juga sering disebut case-comparison study case-compeer study, case-referent study atau retrospective study yaitu merupakan penelitian epidemiologic analitik observasional yang mengkaji hubungan antara efek (dapat berupa penyakit atau kondisi kesehatan) tertentu dengan faktor resiko tertentu. Desain penelitian kasus-kontrol dapat dipergunakan untuk mencari hubungan seberapa jauh faktor resiko mempengaruhi terjadinya penyakit (cause-effect relationship).
Dalam penerapannya studi kasus-kontrol mempunyai beberapa langkah pelaksanaanya ,diantaranya :
1.Menetapkan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai
2.Mendiskripsikan variabel penelitian : faktor resiko, efek
3.Menetukan populasi terjangkau dan sampel (kasus, kontrol), dan cara untuk pemilihan subjek penelitian.
4.Melakukan pengukuran variabel efek dan faktor resiko.
5.Menganalisi data.

B.Kelebihan Penelitian Kasus-Kontrol

1.Studi kasus-kontrol dapat atau kadang bahkan merupakan satu-satunya cara untuk meneliti kasus yang jarang atau yang masa latennya panjang.
2.Hasil dapat diperoleh dengan cepat.
3.Biaya yang diperlukan biasanya relatif lebih sedikit.
4.Memerlukan subjek penelitian yang lebih sedikit.
5.Memungkinkan untuk mengidentifikasi pelbagi faktor resiko sekaligus.

C. Kelemahan Penelitian Kasus-Kontrol

1.Data mengenai pajanan factor resiko diperoleh dengan mengandalkan daya ingat atau catatan medik. Daya ingat responden yang mengalami efek cenderung lebih mengingat pajanan terhadap faktor resiko daripada responden yang tidak mengalami efek. Data sekunder, dalam hal ini catatan medik rutin yang sering dipakai sebagai sumber data juga tidak begitu akurat.
2.Validasi mengenai informasi kadang-kadang sukar diperoleh.
3.Karena kasus dan control dipilih oleh peneliti maka sukar untuk meyakinkan bahwa kedua kelompok itu sebanding dalam faktor eksternal dan sumber bias lainnya.
4.Tidak dapat memberikan incidence rates.
5.Tidak dapat dipakai untuk menentukan lebih dari satu variabel dependen, hanya berkaitan dengan satu penyakit atau efek.

D.Contoh Kasus :
Hubungan antara Penyakit Diabetes Mellitus (DM) pada remaja dengan perilaku pemberian makanan.
i.Tahap pertama: Mengidentifikasi variabel-variabel penelitian
1.Variabel dependen: remaja yang menderita DM (juvenile diabetes mellitus)
2.Variabel independen: perilaku ibu dalam memberikan makanan.
3.Variabel independent yang lain: pendidikan ibu, pendapatan keluarga, informasi mengenai komposisi gula dalam makanan
ii.Tahap kedua: Menentukan subjek penelitian (populasi dan sample penelitian). Subjeknya adalah ibu dan anak remajanya. Subjek ini perlu dibatasi daerah mana yang dianggap menjadi populasi dan sample penelitian ini.
iii.Tahap ketiga: Mengidentifikasi kasus, yaitu remaja yang menderita diabetes mellitus. Remaja yang menderita DM ditentukan dengan standar kadar gula dalam darah.
iv.Tahap keempat: Pemilihan subjek sebagai kontrol, remaja yang tidak menderita diabetes mellitus. Pemilihan kontrol hendaknya didasarkan pada kesamaan karakteristik subjek pada kasus. (ciri-ciri masyarakat, sosial ekonomi dan sebagainya).
v.Tahap kelima: Melakukan pengukuran secara retrospektif. Pengukuran terhadap kasus (remaja yang menderita DM) dan dari kontrol (remaja yang tidak menderita DM). Memberikan pertanyaan kepada remaja dan orang tuanya dengan metode recall. (jenis-jenis makanan, minuman dan komposisi gula di dalamnya dan lain-lain).

Tahap keenam: Melakukan pengolahan dan analisis data. Dilakukan dengan membandingkan proporsi remaja yang mengkonsumsi gula pada kelompok kasus dan kelompok kontrol. Diharapkan akan muncul atau tidaknya bukti hubungan antara penyakit DM dengan konsumsi gula pada remaja

STUDI KOHORT

A.Pengertian
Studi kohort merupakan penelitian epidemiologik analitik non-eksperimental yang mengkaji hubungan antara faktor resiko dengan efek atau penyakit. Perkataan kohort berasal dari istilah Romawi Kuno cohort yang berarti sekelompok tentara yang maju berbaris ke medan perang. Model pendekatan yang digunakan pada rancangan penelitian kohort adalah pendekatan waktu secara longitudinal atau time period approach, kausa atau faktor resiko diidentifikasi terlebih dahulu, kemudian subjek diikuti sampai periode waktu tertentu untuk melihat terjadinya efek atau penyakit yang diteliti.
Dalam penerapannya studi kohort mempunyai beberapa langkah pelaksanaanya ,diantaranya :
1.Merumuskan pertanyaan penelitian
2.Menetapkan kohort
3.Memilih kelompok kontrol
4.Mengidentifikasi variabel penelitian
5.Mengamati timbulnya efek
6.Menganalisis hasil

B.Kelebihan

1.Studi kohort merupakan desain yang terbaik dalam menetukan insidens dan perjalanan penyakit atau efek yang diteliti.
2.Studi kohort paling baik dalam menerangkan hubungan dinamika hubungan antara faktor resiko dengan efek secara temporal.
3.Studi kohort merupakan pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan progresif.
4.Studi kohort dapat dipakai untuk meneliti beberapa efek sekaligus dari suatu faktor resiko tertentu.
5.Karena pengamatan dilakukan secara continue dan longitudinal, studi kohort memiliki kekuatan yang andal untuk meneliti berbagai masalah kesehatan yang makin meningkat.

C.Kekurangan

1.Studi kohort biasanya memerukan waktu yang lama.
2.Sarana dan biaya biasanya mahal.
3.Studi kohort seringkali rumit.
4.Kurang efisien segi waktu maupun biaya untuk meneliti kasus yang jarang terjadi.
5.Terancam terjadinya drop out atau terjadinya perubahan intensitas pajanan atau faktor resiko dapat menggangu analisis hasil.
6.Dapat menimbulkan masalah etika oleh karena peneliti membiarkan subjek terkena pajanan yang dicurigai atau dianggap dapat merugikan subjek.

D.Contoh Kasus :
Hubungan antara Penyakit Jantung dengan Merokok
1)Tahap pertama: Menentukan variabel-variabel penelitian
a)Variabel dependen: Penyakit Jantung
b)Variabel independen: orang yang merokok (responden)
c)Variabel pengendali: umur, pekerjaan, jenis kelamin dan sebagainya dari responden.
2)Tahap kedua: Menetapkan subjek penelitian. Menentukan populasi dan sampel. Misalnya yang menjadi populasi adalah semua pria di suatu tempat tertentu, dengan umur antara 25-40 tahun, baik yang merokok maupun tidak merokok.
3)Tahap ketiga: Mengidentifikasi subjek yang merokok (risiko positif) dari dan subjek yang tidak merokok (risiko negative) dari populasi tersebut.
4)Tahap keempat: Mengobservasi perkembangan efek pada kelompok risiko positif maupun risiko negatif sampai pada waktu tertentu (misalnya sampai 10 tahun kedepan, untuk mengetahui terjadinya penyakit jantung).
5)Tahap kelima: Mengolah dan menganalisis data. Membandingkan proporsi orang-orang yang menderita penyakit jantung dengan proporsi orang-orang yang tidak menderita penyakit jantung. (kelompok perokok dan kelompok tidak merokok).

Refrensi :
1.Dawson-Saunders B, Trapp RG. Basic and clinical biostatistics. London : Prentice Hall Inc, 1990.
2.Fletcher RH, Fletcher SW, Wagner EH. Clinical epidemiology-the essentials. Ediisi ke-2 Baltimore: Williams & Wilkins; 1988.
3.Gardner MJ, Altman DG. Statistic with confidence. London: BR Med J, 1989.
4.Murti, Bhisma. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
5.Notoadmojo, Soekidjo. Prof. Dr. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

0 komentar:

Poskan Komentar